Aksi penyadapan intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) disebut terkait dengan peristiwa pengeboman Hotel JW
Marriot pada 17 Juli 2009. Aksi penyadapan Australia terhadap SBY
diketahui berlangsung selama 15 hari pada Agustus 2009.
“Timbul pertanyaan ketika JW Marriot dihantam bom untuk kedua kalinya.
Apakah ini ulah Noordin Top atau bagian dari sebuah rencana yang lebih
besar?” ujar pengamat terorisme Australia, Greg Barton, seperti dikutip ABC, Senin (18/11/2013).
Barton menambahkan, Pemerintah Australia mungkin merasa Indonesia
menyembunyikan sesuatu. Hal itu yang diduga menjadi motif penyadapan
terhadap SBY dan tokoh penting lainnya.
“Intelijen Australia mungkin merasa ada petunjuk-petunjuk yang
disembunyikan pihak Indonesia. Meskipun kita percaya Indonesia, bukan
berarti kita mempercayai kemampuan Indonesia mengungkap kasus terorisme.
Kita ingin melihat bukti-buktinya secara langsung,” terangnya panjang
lebar.
Selain SBY, Negeri Kanguru itu juga menyadap Ibu Negara Ani Yudhoyono,
Boediono, Jusuf Kalla, Andi Malarangeng, Dino Patti Djalal, Hatta
Rajasa, Widodo AS dan Sofyan Djalil. Para pejabat tersebut disadap
melalui jaringan telefon 3G yang mereka miliki.
Aksi penyadapan Australia terungkap setelah harian Guardian kembali memuat dokumen rahasia intelijen Amerika Serikat (AS) yang dibocorkan Edward Snowden. Laporan Guardian memicu kecaman keras pemerintah. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengumumkan Indonesia menarik Duta Besar untuk Australia Nadjib Riphat.
[Sumber]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar